SMPN 1 WITA PONDA

Jl. Trans Sulawesi No. 06, Laantula Jaya, Kab. Morowali Prov. Sulawesi Tengah

Sekolah Beriman dan Berprestasi

Budaya Literasi: Budaya Membaca dan Tulis Artikel

Rabu, 21 Nopember 2018 ~ Oleh admin sekolah ~ Dilihat 742 Kali

Membaca adalahsuatu proses untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan dengan menggunakan indera mata dari sesuatu yang ditulis. Bahan bacaan atau sesuatu yang ditulis tadi dapat berupa bahan bercetak di atas kertas seperti buku, novel, majalah, koran, atau dapat juga melalui gawai  (bahasa Inggrisgadget). Kegiatan membaca sangat bermanfaat jika dilakukan, apalagi bila membudaya. Melalui membaca, kita bisa menggali bakat dan potensi anak, memacu peningkatan daya nalar, melatih konsentrasi, peningkatan prestasi sekolah, dan masih banyak lagi manfaatnya. Mengingat begitu banyak hal yang bisa kita peroleh dari kegiatan membaca, sangatlah penting bagi semua pihak untuk mendorong terciptanya suatu budaya membaca pada linkungan sekolah, masyarakat atau civitasakademika.

Kita semua telah memahami bahwa guru adalah komponen sekolah yang hampir setiap saat paling erat bertalian dengan siswa. Guru sebenarnya merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi budaya membaca pada siswa. Suka atau tidak, siswa akan menjadikan guru sebagai role model dan sebagai profil yang menjadi acuan tindakan mereka. Sampai saat ini kegiatan membaca bagi guru sendiri, masih merupakan kegiatan yang belum menjadi budaya. Coba tanyalah guru di sekeliling kita, berapa banyak buku (selain buku pelajaran yang ia punya), yang telah dibacanya dalam tiga atau enam bulan yang lalu? Tiga buku? Dua buku? Satu Buku? Atau Nol (0) buku? Kita yakin, banyak guru yang sudah lama tidak membaca buku, selain buku pelajaran. Memang, ada banyak hambatan dan tantangan bagi guru untuk melakukan kegiatan membaca dan bermuara pada produk tulisan. Alasannya klasik, banyaknya tuntutan administrasi guru dan pemenuhan jam mengajar (bagi guru yang sudah bersertifikasi). Sehingga membaca dan menulis susah untuk membudaya.

Dari fenomena yang terjadi di lingkungan pendidikan dewasa ini, tentunya dibutuhkan solusi yang jitu untuk meningkatkan budaya minat dan budaya membaca sejak dini. Pada akhirnya diharapkan akan menumbuhkan budaya menulis. Selama penulis menjalani profesi sebagai guru, banyak hal atau tantangan untuk menggalakan untuk siswa membaca, dan pada momen-momen tertentu siswa akan ditargetkan berapa jumlah buku yang harus ia baca. Dan berdasarkan standar isi yang tercantum dalam kurikulum  pendidikan sekarang bahwa siswa diwajibkan untuk membaca buku dalam penumbuhan budaya literasi di sekolah. Cukup berat memang, jika sejak awal guru tidak memberikan kewajiban pada siswa bahwa siswa wajib membaca buku, selain buku mata pelajaran jika gurunya pun hanya mengamati dan tidak ikut terjun langsung. Menumbuhkan budaya membaca tentunya butuh komitmen yang seimbang antar guru siswa dan juga seluruh elemen di lingkup pendidikan.

Kali ini penulis akan berbagi pengalaman mengenai bagaimana meningkatkan budaya membaca dan menulis pada siswa. “Dengan membaca kita akan terbuka pola pikir yang luas” "Think globally act locally"s. Itulah kata yang sering penulis tuturkan kepada seluruh peserta didik ketika mengawali pembelajaran. Tak ada ruginya ketika kita membaca, membaca bahan bacaan apa saja yang penting itu menarik dan nyaman untuk dibaca. Silahkan Anda untuk membacanya. Sebagai contoh ketika kita sedang berjalan dan ada kertas yang terbang dan itu adalah penggalan koran, ada tulisan yang menarik untuk membaca maka simpan dan bacalah jika ada waktu yang tepat. Sebelum pembelajaran berlangsung tatkala ada salahnya kita awali dengan membaca buku nonpelajaran bisa berupa artikel di majalah, koran ataupun bacaan yang dianggap menarik dan bisa didiskusikan bersama.

Menanamkan pola pikir yang kedua adalah ketika kita sudah senang dengan membaca maka kita secara otomastis perbendaharaan kosakata akan terus meningkat atau bertambah. Terkadang kita sulit untuk mengungkapkan suatu hal karena kita tidak tahu istilahnya atau kata apa yang tepat untuk menggambarkannya. Dan jadinya, ketika kita dalam perbincangan dengan rekan, kawan, guru bahasa yang digunakan itu-itu saja. Tak ada pilihan lain alias tidak berkembang perbendaharaan kosa katanya. Lain dari itu, dengan membaca akan melatih kekritisan kita terhadap suatu permasalahan yang ada dan sedang berkembang, entah itu berada di lingkungan kita, berskala nasional maupun internasional.

Dengan hal seperti ini, ternyata siswa sangat antusias untuk membaca. Siswa telah menyiapkan beberapa artikelnya yang ia cari di berbagai media cetak untuk dikupas dalam forum diskusi kelas. Yang paling menarik dari pembelajaran ini adalah, siswa tumbuh inisiatif untuk menulis kreatif dengan permasalahan yang hampir sama yang berkaitan dengan sekolah, lingkungan masyarakat, dan ada pula yang berkaitan dengan isu nasional yang sedang diperbincangkan di surat kabar yang mereka baca. Inilah saatnya guru memberikan dorongan dan bimbingan untuk meningkatkan kreatifitas siswa dalam menulis. Tentunya, guru akan terus membimbing dalam proses penulisan artikel ini, tak jarang siswa bertanya, Bagaimana dan poin-poin apa saja yang perlu ditulis ketika tema dan pokok permasalahan saya seperti ini? Solusinya sangat mudah. Tak ada kata yang sulit, penjelasan singkat namun mengena, itulah yang penjelasan yang disampaikan kepada siswa yang bertanya. Pengembagan menulis artikel pun berjalan sangat efektif di kelas.

Dengan pembelajaran seperti ini ternyata mampu meningkatkan minat baca siswa dan terlebih pada menulis. Tak ada keraguan lagi bahwa membaca itu menjenuhkan, melelahkan, dan tak ada waktu ketika ditanya, apa yang kamu baca dan bacaan apa yang kamu baca hari ini? Semua akan siap dengan beragam cerita yang menarik. Dan tentunya, guru akan selalu memberikan waktu untuk anak-anak bercerita selama lima sampai sepuluh menit. Bercerita dan berbagi dengan temannya di awal pembelajaran di kelas adalah momen yang baik untuk mengawali setiap pembelajaran.

           Pada tahap akhir pembelajaran, siswa telah menghasilkan karya-karya yang menarik dan dengan permasalahan yang beragam. Setiap permasalahan yang diungkap semuanya ditambahkan solusi alternatif bagi pembaca untuk melakukan lebih baik lagi. Selain itu, karya siswa ini oleh guru di pajang di setiap papan display yang dapat dinikmati seluruh warga sekolah. Rasa kepuasan terpancar pada siswa karena karya/tulisannya dibaca oleh orang lain dan memberikan manfaat atau pencerahan baru bagi pembaca.

            Sebagai penutup, kiranya perlu ditekankan bahwa penumbuhan budaya literasi melalui kegiatan membaca dan menulis harus kita mulai dari sekarang. Data yang mengejutkan bahwa negera kita ini masih sangat rendah budaya membaca dibadingkan dengan negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika bisa segera kita tepis. Marilah kita semua menjadi rolle model di lingkungan keluarga, masyarakat, dan juga sekolah dalam menumbuhkan budaya membaca dan menulis. Salam literasi. Salamnya membaca dan menulis…

 

Rojaki, M.Pd.

Guru SMA Negeri 2 Unggul Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Berita Pengumuman Sekilas-info
  1. TULISAN TERKAIT
...

Irwan, S.pd

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut…

Selengkapnya