SMPN 1 WITA PONDA

Jl. Trans Sulawesi No. 06, Laantula Jaya, Kab. Morowali Prov. Sulawesi Tengah

Sekolah Beriman dan Berprestasi

Pendidikan Multikultural di Indonesia

Sabtu, 17 Nopember 2018 ~ Oleh admin sekolah ~ Dilihat 1121 Kali

Kebudayaan

Kebudayaan atau kultur atau culture dalam ilmu antropologi didefinisakan sebagai; keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar[1]. Kebudayaan menunjuk kepada berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Kata itu meliputi cara?cara berlaku, kepercayaan?kepercayaan dan sikap?sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu[2]. Kebudayaaan merupakan cara berlaku yang dipelajari; kebudayaan tidak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan unsur genetis[3]. Kebudayaan sendiri diperoleh melalui proses yang relatif penjang. Proses ini terjadi karena didalam kebudayaan ada nilai yang harus disampaikan kepada generasi penerus. Proses itulah yang menyebabkan kebudayaan memiliki karakteristik disamping karena kebudayaan tidak diturunkan secara genetis. Karakteristik inilah yang akhirnya menjadikan berbagai kebudayaan yang ada dibelahan dunia memiliki ciri khas tersendiri.

Karakteristik kebudayaan; pertama, kultur adalah sesuatu yang general dan spesifik sekaligus, kedua, kultur adalah sesuatu yang dipelajari,ketiga, kultur adalah suatu simbol,keempat, kultur dapat membentuk dan melengkapi sesuatu yang alami,kelima, kultur adalah sesuatu yang dilakukan bersama?sama, dan keenam, kultur adalah sebuah model, ketujuh, kultur adalah sesuatu yang bersifat adaptif[4]. Karakteristik kebudayaan menjadikan suatu budaya dapat berubah sesuai perkembangan zaman, dipelajari oleh masayarakat yang bukan anggota dari sebuah kebudayaan, masuknya kebudayaan lain kedalan suatu kebudayaan tertentu, serta memungkinkan suatu kebudayaan punah. Perkembangan didalam kebudayaan menjadikan adanya keberagaman kebudayaan atau bisa disebut sebagai multikultural.

Multikulturalisme

Multikulturalisme secara sederhana dapat dikatakan sebuah pengakuan atas pluralisme budaya. Pluralisme budaya bukanlah sebuah pemberian tetapi merupakan suatu proses internalisasi nilai-nilai di dalam suatu komunitas. Pluralisme bangsa merupakan sebuah pandangan yang mengakui akan adanya keberagaman di dalam suatu bangsa, seperti Indonesia. Istilah plural mengandung arti yang beragam, namun pluralisme bukan berarti sekedar pengakuan dalam hal tersebut. Namun mempunyai implikasi-implikasi politis, sosial, ekonomi. Oleh sebab itu, pluralisme berkaitan dengan prinsip-prinsip demokrasi[5]. Pandangan lainmengenai definisi pendidikan dan multikultural, salah satunya yaitu

Multicultural education is “a field of study designed to increase educational equity for all students that incorporates, for this purpose, content, concepts, principles, theories, and paradigms from history, the social and behavioral sciences, and particularly from ethnic studies and women’s studies”6.

Multikulturalisme bukan hanya sebuah wacana, melainkan sebuah ideologi yang harusdiperjuangkan karena dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, HAM dankesejahteraan hidup masyarakatnya. Sebagai sebuah ideologi, multikulturalisme terserap dalam berbagai interaksi yang ada dalam berbagai struktur kegiatan kehidupan manusia yang tercakup dalam kehidupan sosial, kehidupan ekonomi dan bisnis, dan kehidupan politik, dan berbagai kegiatan lainnya di dalam masyarakat yang bersangkutan. Interaksi tersebut berakibat pada terjadinya perbedaan pemahaman tentang multikulturalisme. Perbedaan tersebut berimplikasi pada perbedaan sikap dan perilaku dalam menghadapi kondisi multikultural masyarakat Indoneisa. Sebagai sebuah ideologi, multikulturalisme harus di perjuangkan, karena dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, hak asasi manusia dan kesejahteraan hidup masyarakat[6].

Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek seperti kondisi sosio-kultural maupun secara geografis. Berdirinya negara Indonesia dilatar belakangi oleh masyarakat yang beragam, baik secara etnis, geografis, kultural maupun religius. Masalah suku bangsa dan kesatuan-kesatuan nasional di Indonesia telah menujukkan kepada kita bahwa suatu negara yang multi etnik memerlukan suatu kebudayaan nasional untuk mnginvestasikan peranan identitas nasinoal dan solidaritas nasional diantara warganya[7].

Masyarakat multikultural harus dihargai potensi dan haknya untuk mengembangkan diri sebagai pendukung kebudayaannya di atas tanah leluhurnya, pada saat yang sama, mereka juga harus tetap diberi ruang dan kesempatan untuk mampu melihat dirinya, serta dilihat oleh masyarakat lainnya yang sama-sama merupakan warga negara Indonesia, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, dan tanah leluhurnya termasuk sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Dengan demikian membangun tanah leluhur, berarti juga membangun bangsa dan tanah air tanpa merasakannya sebagai beban, tetapi sebagai ikatan kebersamaan dan saling kerja sama[8].

Perkembangan multikulturalisme di Indonesia dewasa ini masih mengalami beberapa permaslahan seperti, korupsi, kolusi, nepotisme, premanisme, perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, saparatisme, perusakan lingkungan dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk sealalu menghormati hak-hak orang lain. Berdasarkan permasalahn tersebut perlu adanya strategi khusus dalam memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai bidang antara lain bidang sosial, politik, budaya, ekonomi dan pendidikan. Oleh karena itu pendidikan multikultural memilik peran penting dalam mengatasi permaslahan yang terjadi di Indonesia. Konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur, dan ras. Selain dari pada itu pendidikan multikultural bertujuan agar menimbulkan kesadaran siswa agar selalu berperilaku humanis, pluralis dan demokratis[9].

Pendidikan multikultural merupakan upaya kolektif suatu masyarakat majemuk untuk mengelola berbagai prasangka sosial yang ada dengan cara-cara yang baik. Tujuannya adalah untuk menciptakan hubungan lebih serasi dan kreatif di antara berbagai golongan penduduk. Melalui pendidikan multikultural, siswa yang datang dari berbagai latar belakang dibimbing untuk saling mengenal cara hidup mereka, adat-istiadat, kebiasaan, memahami aspirasi-aspirasi mereka, serta untuk mengakui dan menghormati bahwa tiap golongan memiliki hak untuk menyatakan diri menurut cara masing-masing. Pendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik di beberapa daerah. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan mindset (pemikiran) siswa akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman[10].

Pertentangan etnis yang terjadi di negeri ini beberapa tahun terakhir ini mengajarkan betapa pentingnya pendidikan multikultural bagi masyarakat. Seperti disinggung di atas, meskipun bangsa ini secara formal mengakui keragaman, namun dalam kenyataan tidak[11]. Pada prinsipnya, pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menghargai perbedaan. Pendidikan mutikultural senantiasa menciptakan struktur dan proses di mana setiap kebudayaan bisa melakukan ekspresi. Dalam pendidikan multikultural, setiap peradaban dan kebudayaan yang ada berada dalam posisi yang sejajar dan sama. Tidak ada kebudayaan yang lebih tinggi (superior) dari kebudayaan yang lain[12].

Penyelenggaraan pendidikan multikultural di dunia pendidikan diyakini dapat menjadi solusi nyata bagi konflik dan disharmoni yang terjadi di masyarakat, khususnya yang kerap terjadi di masyarakat Indonesia yang secara realitas plural[13]. Selain sebagai sarana alternatif pemecahan konflik, pendidikan multikultural juga signifikan dalam membina siswa agar tidak tercerabut dari akar budaya yang telah dimiliki sebelumnya, tatkala berhadapan dengan realitas sosial-budaya di era globalisasi[14].

Dengan demikian, kalau ingin mengatasi segala problematika masyarakat, langkah pertama yang harus dilakukan seyogyanya dimulai dari penataan secara sistematik dan metodologis dalam pendidikan. Untuk memperbaiki realitas masyarakat, perlu dimulai dari proses pembelajaran, yaitu dengan menggunakan pembelajaran yang lebih mengarah pada upaya menghargai perbedaan di antara sesama manusia, sehingga terwujud ketenangan dan ketentraman tatanan kehidupan masyarakat[15].

Pendidikan Multikultural tidak hanya dibutuhkan oleh seluruh anak atau peserta didik, tidak hanya menjadi target prasangka sosial kultural, atau anak yang hidup dalam lingkungan sosial yang heterogen, namun seluruh anak didik sekaligus guru dan orang tua perlu terlibat dalam pendidikan multikultural. Dengan demikian, diharapkan akan dapat mempersiapkan anak didik secara aktif sebagai warga negara yang secara etnik, kultural, dan agama beragam, menjadi manusia-manusia yang menghargai perbedaan, bangga terhadap diri sendiri, lingkungan dan realitas yang majemuk[16].

 

Permasalahan di Indonesia

Indonesia memiliki ratusan kelompok etnis. Setiap etnis memiliki budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, dan Eropa, termasuk kebudayaan Melayu. Dengan keragaman kebudayaannya, Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi[17].

Masyarakat Indonesia yang multikultural dan rentan dengan konflik antarkelompok memerlukan pendidikan dengan pendekatan multikultural. Pendidikan multikultural relevan dengan pengembangan demokrasi yang dijalankan sebagai respon terhadap kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah[18].

Kemajemukan masyarakat Indonesia menimbulkan persoalan tentang bagaimana integrasi pada tingkat nasional. Kemajemukan masyarakat yang bersifatmultidimensional menimbulkankan persoalantentang bagaimana cara masyarakat Indonesia berintegrasi secara horizontal, sementara stratifikasi sosial akan memberi bentuk pada integrasi nasional secara vertikal[19].

 

Solusi Permasalahan dari Segi Pendidikan

Intisari dari muatan pendidikan multikultural yang terkandung dalam mata pelajaran Sejarah adalah keragaman corak budaya-budaya besar di Indonesia dan perbedaan ideologi organisasi-organisasi pergerakan nasional. Rumusan indikator pembelajaran terbatas pada aspek kognitif, seperti mendeskripsikan, menjelaskan, mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan dan mendiskusikan. Muatan materi meliputi toleransi, kerukunan, persatuan, perdamaian, demokrasi, pluralisme, Hak Asasi Manusia (HAM), nilai-nilai budaya, kesukubangsaan, keyakinan agama, konflik dan integrasi[20].

Terkait dengan pendidikan multikultural, pandangan yang berkembang di kalangan guru SMA adalah pendidikan yang menitikberatkan pada keanekaragaman siswa, baik yang mempunyai keanekaragaman IQ, psikologis, latar belakang agama, ekonomi, sosial dan budaya. Atas pandangan tersebut, guru menyadari dan menerima adanya keanekaragaman siswa yang ada di kelas kondisi tersebut terjadi karena memang siswa berasal dari latar belakang yang berbeda. Perbedaan tersebut dipandang bukan merupakan masalah, melainkan justru menjadi tantangn untuk mengajar dan mendidik. Siswa dilatih menghargai perbedaan, misalnya dengan cara membantu teman-teman yang mengalami musibah tanpa membedakan SARA[21].

Pada mata pelajaran Sejarah dengan materi Sejarah Islam, siswa diharapkan memiliki bekal yang diperlukan pada masanya untuk ikut serta memperkaya panduan utama dalam kehidupan bermasyarakat. Materi muatan lokal dirancang dengan lebih menitikberatkan pada tema-tema kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi sejak masa Islam hingga perkembangannya di Eropa dan Asia Tengah[22].

Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan, “Bagaimana semestinya sejarah Islam dan peradabannya dipelajari sehingga melahirkan wawasan yang luas serta sikap-sikap yang positif?”. Pertanyaan ini dinilai penting, sebab metode belajar yang tidak tepat dapat berakibat pada sikap-sikap negatif terhadap agama atau sejarah itu sendiri. Mempelajari Sejarah Islam harus memperhatikan 7 (tujuh) hal, yaitu: unsur apa, siapa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana. Sejarah adalah fakta sekaligus realita dari sesuatu yang bersifat empirik-objektif, bukan normatif. Dalam penyampaian materi guru sejarah disarankan melakukan pendekatan analitis-kritis, tidak hanya deskriptif-kronologis[23].

Keragaman isi atau materi dari beberapa buku digunakan guru tidak hanya melengkapi materi, namun juga sebagai bahan pembanding. Suatu peristiwa sejarah diungkap fakta-faktanya dari buku-buku tersebut. Jika terdapat kesamaan, maka dapat saling memperkuat atau melengkapi. Sedangkan jika terdapat perbedaan, maka diungkapkan apa adanya kepada siswa, bahwa memang terdapat keragaman interpretasi terhadap suatu peristiwa sejarah tertentu[24].

Guru juga mengaitkan suatu peristiwa sejarah di suatu peristiwa sejarah di suatu tempat dengan tempat lain. Tujuannya adalah untuk mengembangkan sikap kritis siswa agar dapat menarik benang merah suatu peristiwa sejarah dengan peristiwa sejarah yang lain pada suatu tempat (spatial) dan waktu (temporal) yang berbeda. Guru mencontohkan di Afrika Utara dan Spanyol ada gerakan murobitan yang syiah. Gerakan ini mirip dengan pesantren di Indonesia. Meskipun secara akidah berbeda, namun ada persamaan murobitan dengan pesantren antara lain pemujaan terhadap ahlul bait, pakaian, dan penghormatan terhadap guru (kiai). Selain untuk menarik benang merah suatu peristiwa sejarah dengan peristiwa sejarah lain juga untuk mengembangkan sikap siswa menghadapi perbedaan. Menghadapi perbedaan-perbedaan di antara umat Islam pada masa lampau maupun pada masa kini, guru menekankan pentingnya sikap menerima perbedaan dan untuk tidak mudah terpengaruh oleh kelompok-kelompok yang menghembuskan perbedaan untuk memecah belah umatIslam[25].

Guru memberikan pertanyaan atau membuka diskusi sebagai review atas materi pelajaran sebelumnya. Dalam proses diskusi atau tanya jawab, setiap siswa diberi kesempatan sama untuk menjawab, tidak hanya menunjuk salah seorang siswa[26]. Konflik yang bernuansa agama merupakan konflik yang paling Sensitif karena konflik tersebut sangat memancing emosi pemeluknya. Guru mencontohksn konflik yang terjadi di Ambon. Terhadap konflik semacam ini, guru menekankan kepada siswa agar tidak melakukan generalisasi. Di dalam setiap agama terdapat keragaman aliran karena latar belakang pemahaman yang berbeda. Guru mencontohkan di kalangan pemeluk agama Islam ada yang konservatif, moderat, fundamentalis dan tradisional. Demikian pula di kalangan Kristen terdapat berbagai akiran dan golongan. Guru mengajarkan bahwa cara yang paling bijak untuk menyikapi konflik bernuansa agama seperti yang terjadi di Ambon adalah dengan mencari tahu latar belakang yang sbenarnya dari konflik tersebut[27].

Agar keragaman tidak menjadi pemicu konflik, maka guru mengajarkan kepada para siswa tentang keragaman itu sendiri, baik keragaman di lingkungan keluargam sekolah maupun masyarakat. Secara teoritis, keragaman tersebut dijelaskan satu persatu oleh guru. Selanjutnya siswa diberi tugas untuk mengamati contoh nilai-nilai dan norma sosial yang dijumpai di keluarga,sekolah, dan masyarakat. Penjelasan secara teoritis dan hasil pengamatan siswa kemudian dibahas dan ditekankan kepada siswa bahwa setiap masyarakat pasti memiliki nilai dan normanya sendriri yan harus dipelajari oleh siswa[28].

Guru sejarah mengajarkan kepada siswa bahwa masa lalu harus dipandang sebagai bagian dari sejarah bangsa. Setiap mempelajari suatu peristiwa sejarah, siswa diajak untuk membayangkan peristiwa tersebut, melakukan refleksi untuk mengambil kesimpulan dan untuk menentukan sikap apa, bagaimana, dan mengapa keadaan bangsa negara seperti saat ini. Guru mencontohkan perjuangan meraih kemerdekaan. Siswa diajak melihat sifat-sifat perjuangan yang memerlukan pengorbanan, perlunya persatuan dan kesatuan, termasuk penyatuan perbedaan suku, ras, agama sehingga yang tampak adalah persamaan tujuan meraih kemerdekaan[29].

Berita Pengumuman Sekilas-info

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Irwan, S.pd

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut…

Selengkapnya